Bacaan: Markus 1
Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. (Markus 1:35)
Oleh: Wiji Suprayogi
Dalam dunia yang serba cepat dan serba berubah ini, berdiam diri dan menarik diri dari keributan dunia merupakan kemewahan. Nah nampaknya kita sering tidak menyadarinya. Rutinitas dari pagi sampai malam menenggelamkan kita dan seolah membuat hari kita biasa-biasa saja. Soalnya semua orang menjalankan kesibukan yang sama dan itulah yang disebut biasa. Orang ya harus bekerja kalau mau dapat makan. Kalau tidak bekerja jangan makan begitu kata alkitab. Kita harus menggunakan waktu sedemikian rupa karena hari-hari ini jahat, begitu kata ayat lain, dan kita mati-matian membuat diri menjadi efektif dan efisien. Kita atur hari kita sedemikian rupa sehingga jam seginti sudah saat teduh, jam segini sudah bekerja, nanti saat teduh lagi, bekerja dan saat teduh begitu seterusnya. Demikian juga ada orang yang tidak mengerjakan apa-apa, menganggur, tapi dia sibuk dalam pikiran dan kegalauan hatinya. Bepergian kemanapun dan bergerak kemanapun.
Nampaknya sempurna sekali hidup kita bisa mengatur sedemikian rupa untuk bersaat teduh dan mengisi hari dengan efisien dan efektif; tapi apakah itu yang terjadi? Apakah kita memang benar-benar diam dan berdoa? Apakah kita benar-benar mencari hadirat Tuhan? Jangan-jangan kita hanya sibuk diatur oleh jadwal tanpa menangkap esensi diam itu sendiri. Bahkan dalam kondisi tidak melakukan apa-apa secara fisik, apakah kita benar2 diam dan berdoa di dunia yang begitu ramai dan menuntut kesibukan ini?
Mungkin memang ada definisi tersendiri mengenai diam dan berdoa di dunia yang sibuk ini. Tapi kalau membaca kisah dalam Markus ini, Yesus benar-benar menarik diri dari kesibukan. Dia mencari tempat yang sunyi yang artinya melepas berbagai kesibukan dan dia nampaknya hanya berdoa di sana.
Ah di jaman Yesus kan tidak ada smartphone, Dia juga belum tau bahwa kita bisa sendiri ditengah keramaian. Jadi biasa sajalah. Pada titik inilah nampaknya kita perlu keberanian untuk benar-benar berdiam diri dan merefleksikan arti diam dan berdoa.
No comments:
Post a Comment