Tuesday, February 28, 2012

Menjadi Lain Seperti Daniel

Bacaan: Daniel 1:1-21

Oleh: Wiji Suprayogi

Belakangan ini banyak berita yang tidak begitu mengenakkan soal para pemimpin kita. Korupsi makin menggila, keserakahan tiba-tiba menjadi hal biasa. Disisi lain moral dan etika entah pergi kemana. Seorang budayawan lewat televisi menggambarkannya sebagai situasi dimana negeri kita ini memang elit atau pemimpinnya sudah bebal dan buta nuraninya. Haruskah kita mengikutinya? Atau kita sendiri ada dalam lingkaran kebebalan itu?

Saya tidak tahu bagaimana perasaan anda terhadap kondisi di sekitar saat ini tapi saya merasakan jaman sedang berubah dan kita tergagap-gagap menanggapinya. Salah satu contohnya adalah: apa yang dulunya dianggap privat dan tertutup sekarang menjadi umum dan wajar. Tabu tidak ada karena semua sudah terbuka. Mungkin karena itulah seorang anggota dewan terhormat di DPR berani melihat film porno di tengah rapat. Kasus ini katanya merupakan gunung es, jadi mustinya masih ada banyak kasus serupa. Artinya, di kantor para dewan itu melihat hal yang tabu adalah biasa. Di sisi lain, keterbukaan informasi, keterbukaan pikiran membuat berbagai akses yang tabu itu menjadi sangat mudah dan menjadi hiburan. Dulu mungkin orang berfikirmelihat hal tabu itu dosa, tapi sekarang dengan berbagai dalih canggih, pembukaan hal tabu ke ranah publik sering disebut sebagai keterbukaan informasi. Mungkin malah orang yang menganggap hal tersebut dosa dianggap tidak maju. Tentu saja saya tidak berusaha menyalahkan siapapun. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa dunia sedang berubah dan kita perlu mengantisipasinya. Pilihan antisipasi tentu saja ada pada tiap individu.

Hari ini saya belajar dari Daniel bagaimana dia mengantisipasi jaman yang berubah. Sebagai anak muda Israel yang cakap dia bisa saja menolak bekerja dengan giat bagi raja yang merupakan penakluk bangsanya. Dia bisa membenci keadaan. Sejatinya dia juga bisa menggunakan kesempatan untuk bersenang-senang sesuka hati karena: Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu. Hidup bisa santai dan enak. Bukankah hidup hanya sekali dan mengapa kita menyusahkan diri? Mungkin begitu pikir kita. Tapi Daniel justru mengambil langkah berani dan membuat keputusan yang berlawanan dengan kondisi sekitar. Ketika diberi makanan yang serupa dengan raja dia malah memutuskan untuk memilih menu sendiri yang lebih sederhana. Pilihannya sangat tidak biasa. Bahkan pegawai istana sempat takut karena pilihannya. Daniel terus beriman dengan pilihannya dan dia serta kawan-kawannya menjadi sepuluh kali lebih cerdas dari yang lain.

Adakah kita berani memilih hidup seperti Daniel? Memiliki prinsip yang benar dan tidak mementingkan kenikmatan pribadi? Memilih untuk sederhana walau kemewahan semu ada di depan mata? Memilih untuk menjadi contoh dan pelaku kebaikan. Memilih untuk tidak mencari kesenangan pribadi dikala yang lain melihat korupsi adalah bagian dari pembagian kesejahteraandan berkat Tuhan. Memilih untuk berlaku baik dikala kebaikan hanya menjadi ucapan kosong serta keburukan menjadi hiburan yang menyegarkan.

Sejujurnya saya belum tentu berani dan bisa juga. Mari kita belajar dan meminta kekuatan pada Sang Pemberi Keluatan Alam.

No comments:

Post a Comment